Sinau Budaya: Budaya Lokal Tangkal Paham Radikalisme

Sinau Budaya: Budaya Lokal Tangkal Paham Radikalisme

Lima budayawan lokal dan budayawan luar negeri berbagi cerita tentang penerapan budaya dalam menangkal paham radikalisme. Para budayawan berkolaborasi dalam kegiatan Sinau Budaya dengan tema “Budaya Lokal: Tangkal Paham Radikalisme” yang diselenggarakan di Cafe Sky, Jl. Sepakat II, Pontianak, (12/04/2019).

Dr. Thomas Bret Golson selaku budayawan tamu dari Amerika dalam kesempatan pertamanya menyampaikan bahwa di masa lalu Amerika terdapat pengkotak-kotakan baik budaya dan agama. Kondisi tersebut mengakibatkan banyak teejadi pembunuhan kumasyarakat kulit putih terhadap kulit hitam. Padahal seharusnya baik itu kukit hitam maupun kulit putih memiliki hak yang sama.

“Namun, yang terpenting adalah bagaimana pada akhirnya kita mampu membuat persatuan yaitu dengan cara menghargai perbedaan”, lanjut Thomas.

Pdt. Ir. Iwan Luwuk selaku perwakilan budayawan dayak, menyampaikan dalam budaya dayak ada yang namanya budaya Potong Pantan yang digunakan untuk menyambut tamu. Tradisi tersebut mengndung makna untuk menanyakan tamu tersebut datang dari mana dan apa tujuannya sebelum nanti diperbolehkan masuk. Untuk dapat masuk, tamu harus mengikuti aturan yang telah dibuat. Artinya, hal tersebut untuk mencegah tujuan jahat dari si tamu, yang pada akhirnya secara otomatis dapat memfilter dan mencegah paham-paham radikalisme.

Budayawan madura, Abdul Hamid bwrcerita tentang keseharian masyarakat madura yang tidak terlepas dari pendidikan pesantren yang mengajarkan untuk menghormati orang tua. Menurutnya, pendidikan pesantren lebih menekankan pada pola pendidikan karakter dan menghormati guru (kyai). Abdul Hamid menambahkan, walaupun dalam keseharian masyarakat madura terkesan radikal namun belum pernah masyarakat madura yang sampai menjadi teroris. Dalam hal ini, radikal pada masyarakat madura adalah radikal dalam konteks positif.

Edi Suhairul atau yang lebih akrab dengan nama Edi Jenggot, selaku perwakilan dari budayawan jawa mencontohkan budaya kesenian Singo Barong, sebagai kesenian yang mengandung unsur-unsur magic namun tetap mengutamakan kebersamaan dalam pelaksanaannya.

Rihat Natsir Silalahi selaku budayawan Batak mengatakan Horas merupakan simbol salam masyarakat batak yang memiliki makna do’a dan untaian harapan kepada sang pencipta yang memberikan sehat tubuh dan damai sejahtera bagi dunia. Masyarakat batak meyakini bahwa manusia di bagi menjadi tiga, yakni tubuh, jiwa dan pikiran. Kearifan lokal sebagai budaya lokal dapat menangkal paham radikalisme. Menurut Rihat, tema kegiatan ini memiliki arti jika ridak ada toleransi dan dialog atau edukasi persuasif berpotensi menjadi radikal, dan jika sudah radikal harus kembali lagi pada Pancasila.

Didi Darmadi S.Pd.I, M.Lett, budayawan Melayu menyampaikan bahwa NKRI seperti kehilangan jati dirinya, sehingga lebih mudah melakukan justifikasi. Menurutnya, sekarang ada yang sedang ingin mengubah ideologi negara dengan khilafah. Sementara di beberapa daerah pedalaman di Ketapang masih ada yang belum memahami istila ISIS. “Untuk itu kita perlu merefleksi kembali, terlebih baru-bari ini ada peningkatan penangkapan terhadap teroris di Kalimantan Barat”, Ungkapnya.

Didi menambahkan, BNPT dalam riset salah satu diantaranya yang dapat mencegah radikalisme adalah dengan melestarikan kearifan lokal. Selain itu hukum adat juga mampu untuk menjadi kontrol sosial, seperti mencegah terjadinya konflik.

Penulis: Nur Kusmayadi

Editor: –

Dilihat 148 kali

1 Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *