Siapkah / Siapakah Indonesia?

Siapkah / Siapakah Indonesia?

Di tahun 2019 dapat disebut sebagai tahunnya pesta demokrasi Indonesia. Tepatnya pada 17 April lalu, dimana tahun ini Indonesia akan mencari sosok pemimpin untuk mendudukui kursi RI-1 di periode berikutnya. Baik dari tim petahana maupun tim penantang sama-sama bekerja keras dalam mengkampanyekan bahwa dirinya layak untuk menjadi RI-1 periode mendatang.

17 April telah berlalu, tetapi guncangan pilpres masih mewarnai ruang-ruang diskusi minimalis. Sebagai Pemilu yang katanya paling rumit ini, rupanya masih terus bergelut hingga keputusan KPU di 22 Mei 2019. Namun, untuk sampai pada keputusan akhir di 22 Mei ini tidak serta merta seperti menunggu hasil ujian mahasiswa. Rupanya banyak warna-warni di masyarakat yang menjadikan Pilpres tahun ini menjadi sangat menarik. Tapi pada akhirnya tentu kita ingin negeri ini di pimpin oleh orang baik.

Siapkah Indonesia di pimpin orang baik? Kita tidak memiliki barometer pasti dalam menentukan pemimpin yang baik. Bahkan orang baik akan cukup susah dalam mencapai tujuannya. Orang baik susah untuk naik, yang sudah naik sulit untuk kepuncak, dan orang baik yang ingin ke puncak harus berakhir dijadikan bulan-bulanan para bandit.

Kita ingat bahwa Indonesia pernah di pimpin orang baik. Salah satunya yang sampai di puncak adalah Bj Habibie, beliau bukan hanya baik tapi juga berprestasi. Namun seperti kebanyakan orang baik, pada akhirnya Habibie hanya memimpin satu tahun lima bulan. Dan harus menerima untuk tidak dipilih lagi.

Memang tak perlu berharap ada yang berkualitas seperti malaikat, bahkan mendekati malaikat sekalipun. Setidaknya, kualitas personalnya tak mudah ditransaksikan dengan kepentingan sesaat.

Nasihin Masha mengatakan bahwa ketika proses politik berjalan seperti itu, dan dipadu dengan budaya paternalistik, maka kita menyaksikan elite kita dipenuhi para koruptor. Ini suatu keniscayaan. Hanya ilmu preman yang bisa mengantar seseorang untuk mendaki. Hanya meloloskan orang-orang kuat. Juga hanya ilmu katak yang bisa membuat orang bertahan di jalur pendakian. Menjilat, menyikut, dan menendang. Tak heran jika politik kita demikian gaduh, sadis, dan keji. Politik menjadi formalistik, palsu, dan manipulatif.

Namun Indonesia tak semuram itu. The silent majority tetap berpihak pada hati nurani. Hanya saja mereka perlu untuk di bangunkan. Tanpa ada persatuan kejahatan sebusuk apapun bisa mengalahkan kebaikan sebaik apapun. Walau kebaikan dan kebenaran akan menemukan jalannya sendiri, tapi kita harus menyalakannya terlebih dulu. Takdir datang setelah ada ikhtiar.

Tapi kita tahun bahwa pilpres 2019 memiliki dua calon presiden yang sama hebatnya. Memang kita tidak dapat mengasumsikan mereka orang baik atau jahat. Hanya saja kita pahami dan meyakini bahwa mereka sosok orang baik yang akan siap mengisi kursi pemimpin selama lima tahun mendatang.

Pada akhirnya keputusan itu datang, pada tanggal 22 Mei. Jokowi resmi terpilih sebagai pemenang pilpres 2019. Dan menjadikannya memimpin kembali selama lima tahun kedepan. Keputusan tersebut sudah selayaknya untuk di terima seluruh masyarakat Indonesia.

Menerima hasil pemilu adalah cara terbaik untuk membangun negeri kedepannya. Kita tahu masyarakat Indonesia memiliki memiliki pilihan berbeda. Tetapi disisi lain, menjadi salah satu golongan yang oposisi dari pemerintahan merupakan pilihan yang salah. Sebagai negara demokrasi, dengan mendukung serta mengawasi kinerja pemerintahan menjadikan pilihan yang cukup dewasa dalam ikut membangun negeri.

Jadi, siapkah Indonesia? Hal ini yang nantinya akan membuktikan siapakah Indonesia? Apakah Indonesia hanya negara sebuah negara budak, negara dengan orang-orang yang menolak hasil pemilu? Tentu tidak, dari sini ikut andilnya diri kita dalam membangun negeri semakin menentukan betapa siapkah Indonesia untuk melaju sebagai negara maju.

Penulis: Nur Kusmayadi (Founder KusToro.CoM)
Dilihat 85 kali

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *