PLTN Untuk Kalbar: Mungkin Wacana Unjuk Gigi Semata?

PLTN Untuk Kalbar: Mungkin Wacana Unjuk Gigi Semata?

Saat ini listrik menjadi kebutuhan pokok di segala sektor baik itu ekonomi, pendidikan maupun kebutuhan pokok masyarakat dan individu. Delapan puluh persen pekerjaan kita saat ini tergantung dengan listrik. Artinya jika sebuah kota tanpa adanya listrik boleh dikatakan kota tersebut adalah kota mati.

Kalimantan Barat sendiri sebagai provinsi terluas ketiga setelah Papua dan Kalimantan Tengah kebutuhan listriknya masih relatif kecil jika dibandingkan dengan ibu kota Jakarta yakni baru mencapai 465 MW. Di sisi lain ketersediaan listrik Kalbar saat ini sekitar 622 MW, artinya kebutuhn listrik saat ini masih dapat dikatakan surplus. Sayangnya 230 MW dari 622 MW masih meng impor dari negeri jiran, apakah kategori ini masih dapat dibilang surplus?

Memang jika terhitung dari jumlah ketersediaan dan beban listrik di Kalimantan Barat masih surplus. Namun, jika dalam kemandirian listrik di kalimantan Barat masih defisit sekitar 157MW yang dipenuhi oleh listrik impor sebesar 230 MW dari Malaysia. Tentunya hal ini juga perlu diperhitungkan tentang ketersediaan listrik di masa mendatang.

Belum lama ini muncul sebuah wacana tentang pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN). Yang pada saat itu disampaikan oleh ketua DPD RI Oesman Sapta di pidato pengantar Sidang Bersama DPR-RI dan DPD-RI. Di mana menurutnya pembangunan PLTN ini menjadi sebuah langkah strategis dengan upaya pemerintah dalam melakukan sumber daya alam dalam bentuk semi-finishing product atau finishing product.

Sayangnya wacana pembangunannya tidak cukup di indahkan dari berbagai kalangan, masih banyak menuai pro dan kontra tentang pembangunan PLTN ini. Ada yang beranggapan pembangunan PLTN ini harus disegerakan demi menunjang perekonomian dan pembangunan Kalimantan Barat.  Namun tidak jarang pula yang menolak karena pembangunan PLTN dirasa masih belum tepat sasaran dan di nilai sangat beresiko. Tentunya hal ini membuat timbul banyak pertimbangan dalam membangun PLTN baik itu secara kebutuhan maupun pertimbangan resiko. Yang pasti pembangunan ini bukan ajang coba-coba atau hanya sebagai modal unjuk gigi dengan negara tetangga.

Mengapa Harus PLTN?

PLTN merupakan sebuah pembangkit listrik daya thermal yang menggunakan reaktor nuklir sebagai sumber panas. Prinsip kerja PLTN hampir mirip dengan PLTU, perbedaannya hanya terletak pada sumber panas yang digunakan untuk menghasilkan panas. PLTN menggunakan reaksi pembelahan (fisi) dari inti uranium untuk menghasilkan panas yang besar.

Secara umum, PLTN dapat digolongkan sebagai investasi dengan modal tinggi dan biaya tahunan yang rendah (baik itu segi perawatan, operasi dan kebutuhan bahan bakar). Berbeda dengan PLTU (Pembangkit Listrik Tenaga Uap) yang lebih murah namun mahal di biaya tahunan. Oleh karenanya pembangunan PLTN lebih intensif pada harga bahan baku serta desain yang memenuhi standar keamanan, dimana pembangunan PLTN ini melebihi biaya yang diperkirakan. Hal ini senada dengan gagalnya pembangunan PLTN di Vietnam akibat lonjakan biayadua kali lipat dari yang direncanakan. Berbeda dengan PLTU yang lebih sensitif terhadap harga bahan bakar yang dapat berubah-ubah sesuai dengan pasar.

Dari segi penggunaan bahan bakar sendiri, sebuah pembangkit listrik dengan beban 1.000 Megawatt (MW) selama satu tahun memerlukan bahan bakar uranium sebanyak 21 ton Uranium (PLTN). Artinya jika ketersedian uranium yang katanya sekitar 45rb ton, PLTN dapat menerangi Kalimantan Barat secara mandiri lebih dari 2000 tahun kedepan dengan beban 1.000 MW. Tentu hal ini akan menjadikan PLTN sebagai alternatif listrik murah di masyarakat di masa mendatang.

Berbeda dengan bahan bakar lainnya energi yang dihasilkan untuk 21 ton uranium setara dengan 970.000 ton gas, 1.310.000 ton bahan bakar minyak, dan 2.360.000 ton batu bara. Artinya keberadaan PLTN bisa dikatakan lebih menguntungkan dari segi energi yang dihasilkan dibanding dengan bahan bakar yang lainnya. Di tambah lagi dengan kebutuhan akan listrik yang terus meningkat tiap tahunnya.

Terlebih lagi dengan pemindahan ibu kota negara ke Kalimantan Timur. Dengan begitu PLTN bukan hanya memenuhi kebutuhan listrik Kalimantan Barat, justru mungkin juga dapat memenuhi kebutuhan listrik di Pulau Kalimantan. Ditambah lagi dengan melimpahnya energi listrik yang tersedia tentu juga dapat menarik perhatian para investor datang ke Kalimantan Barat dan sudah tentu akan membantu memandirikan perekonomian Kalimantan Barat itu sendiri.

Belajar dari Chernobyl & Fukushima

Sejarah kelam tidak akan pernah terlupakan dan akan selalu menimbulkan kekhawatiran akan membangun PLTN.  Kita tahu Chernobyl dan Fukushima adalah saksi dari betapa bahanya pembangkit listrik bertenaga nuklir.  Dunia mencatat dua kecelakaan besar pada PLTN yang pernah terjadi yakni Chernobyl, Ukraina pada tahun 1986 dan Fukushima, Jepang pada tahun 2011.

Chernoby, Ukrania banyak disebut sebagai tragedi nuklir paling parah sepanjang sejarah. Pada tahun 1986 ledakan reaktor nuklir yang membuat radiasi berbahaya menyebar ke udara. Pemerintah Ukrania menyatakan bahwa 125 ribu jiwa telah meninggal akibat efek radiasi tersebut. Selain itu bencana ini mengakibatkan kerugian material sekitar 3,5 triliun rupiah dan efek jangka panjang radiasi. Hingga saat ini, akibat dari ledakan tersebut menjadikan Chernobyl dan daerah sekitarnya menjadi kota hantu.

Hal serupa juga pernah terjadi di tahun 2011, akibat gempa dan tsunami yang terjadi di Jepang, memicu terjadinya bencana nuklir di Fukushima. Reaktor nuklir yang diciptakan untuk kesejahteraan warga jepang dan dikatakan telah memenuhi standar keselamatan, ternyata malah mengakibatkan Fukushima menjadi kota tak berpenghuni. Kecelakaan nuklir Fukushima memperlihatkan resiko nuklir tidak dapat kita pandang sebelah mata. Akibat bencana ini Jepang mengalami kerugian ribuan triliun rupiah akibat kebocoran reaktor nuklir serta biaya yang diperlukan untuk pemulihan.

Keuntungan dan Permasalahan PLTN

Kalimantan Barat memiliki potensi energi yang cukup dalam memenuhi kebutuhan energi listrik pada saat ini maupun masa mendatang. Memiliki ketersediaan listrik yang melimpah memang menjadi salah satu indikator majunya suatu wilayah. Namun, perlu juga diperhatikan perbandingan antara ketersediaan dan beban penggunaan listrik yang stabil. Mengingat biaya pembangunan PLTN yang cukup mahal dan resiko yang ditimbulkan besar.

Diharapkan semua pihak terkait dalam menentukan kebijakan kelistrikan dapat duduk bersama dalam upaya pengambilan keputusan terbaik. Baik itu lokasi penempatan yang dari radius aman dari jangkauan penduduk. Tingkat keamanan dan keselamatan baik pembangunan maupun pengoperasian. Yang nantinya bukan hanya berdampak untuk saat ini tapi juga pada generasi-generasi yang akan datang.

Dilihat 67 kali

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *