Pendidikan, Sistem Zonasi Bukan Masalah?

Pendidikan, Sistem Zonasi Bukan Masalah?

Pendidikan merupakan salah satu cara Negara untuk menghentaskan kebodohan berfikir rakyat. Pendidikan juga sebagai salah satu cara untuk meningkatkan kualitas perbuatan yang baik. Pendidikan juga salah satu cara untuk mengembangkan dan memajukan negeri ini. Lahirnya sebuah pendidikan di Indonesia, menjadi sebuah keniscayaan dan mukjizat Tuhan. Kita sering melupakan kehidupan di sekitar kita, melupakan apa yang terjadi di sekitar kita, bahkan kita lupa untuk mensyukuri semua kehidupan di sekitar kita. Padahal semuan kehidupan di dunia ini merupakan pengetahuan yang tiada tandingnya, bahkan tidak bisa kita jual dengan seonggok kertas atau recehan yang kita sebut dengan rupiah.

Kata pendidikan mungkin terlalu umum untuk kita artikan, atau mungkin pendidikan juga terlalu kaku untuk kita cerna dengan akal pikiran ini. Pendidikan bisa berada dimana saja dan kapan saja, karena pendidikan tidak perlu permisi untuk hadir di kehidupan manusia. Tetapi manusia di ajarakan oleh pendidikan untuk belajar arti sebuah permisi.

Ada dua kategori pendidikan, pendidikan formal dan non-formal. Pendidikan formal yakni pendidikan yang hidup dengan segala bentuk ruangan, ruangan aturan tekanan, ruangan aturan penekanan atau ruangan aturan peraturan yang sumpek dengan susupan materi yang tak lepas dengan kurikulum pemerintah yang suka memerintah. Pendidikan non-formal yakni pendidikan yang lepas dari atauran pemerintah tetapi tetap lurus dengan aturan sosial, mencari dan berjalan sendiri untuk mendapatkannya, bahkan bisa merampas dalam diam tanpa harus mengusik kehidupan orang lain.

Baru-baru ini negeri di goncang dan di goyang-goyang oleh berita-berita yang muncul mengenai berita sistem zonasi pendidikan Indonesia. Seingatku berita ini muncul sekitar tahun 2017, dimana Kemendikbud mengeluarkan kebijakan SISTEM ZONASI PENDIDIKAN dalam Penerimaan peserta didik baru (PPDB). Aku mah senang-senang saja. Lah iya, kenapa mesti kita ribut-ribut karena berita-berita yang hadir. Yang aku tahu, setiap kebijakan pemerintah pasti ada untung rugi, positif negatif, baik buruk, bahkan ada yang senang dan ada yang sedih, bahkan manusia berjimak sekalipun juga sama. Setiap tindakan atau perbuatan juga demikian, semuanya bakalan masuk dalam kategori positif negatif, tinggal di timbang-timbang saja, beratnya sama atau malah berat sebelah. Supaya tidak berat salah gampang-gampang saja, setiap stakeholder harus sama-sama memberikan kontribusi yang baik, bukan malah menjatuhkan dan membanting apalagi mematikan.

Sekilas teringat ku teringat salah tokoh atau Bapak Pendidikan-ku. yakni Ki Hajar Dewantara, Almarhum pernah mengatakan dalam buku “Peringatan Taman Siswa 30 Tahun (1922-1952)” yakni:

  1. Setiap orang berhak untuk mengatur dirinya dengan mengingat pentingnya persatuan dalam hidup berbangsa dan bernegara;
  2. Pembelajaran berarti proses “mendidik” agar “peserta didik merdeka” bathinnya, pikirannya dan tenaganya;
  3. Pendidik jangan hanya memberikan materi pembelajar kepada peserta didik, tetapi juga memberikan kesempatan kepada mereka untuk mencarinya sendiri dan memanfaatkannya dalam kehidupan sehari-hari;
  4. Materi pembelajaran yang baik dan penting adalah yang memiliki manfaat untuk keperluan lahir dan bathin dalam hidup bersama;
  5. Mengembangkan pengetahuan dan karakter peserta didik melalui pembelajaran sesuai keadaan sendiri, budaya sendiri yang dijadikan basis pelaksanaan untuk mencari kehidupan baru yang selaras dengan kodrat kita dan kedamaian dalam hidup.

Sangat jelas ketika kita bisa mengartikan dan memahaminya dengan seksama, dari setiap kata dan setiap kalimat yang berbaris di setiap bait pargaraf di atas. Tetapi kalau matanya rabun, kudu pakai alat pembantu (kaca mata), agar tidak abstrak dalam memahaminya, dan juga harus belajar membaca lagi seperti diwaktu kamu kecil, agar ketika membaca bisa membacanya sampai selesai.

Indonesia ini sangat luas, bukan selebar daun kelor, kudu bener-bener ketika mendidik. Berikan pengetahuan yang baik, karena kita hidup ini akan terus bergenerasi. Kebijakan System zonasi anggap saja itu merupakan hadiah, reword, piagam atau piala emas yang sangat membantu untuk mengentaskan pola berfikir kebodohan rakyat. Siapa yang masih berfikir kalau system zonasi merupakan kebijakan yang salah, manusia itu kudu belajar jadi anak-anak jalanan, keseharian mereka memita-minta kepada manusia yang katanya rupiah, meminta belas kasihan, bahkan meminta untuk di sayangi karena mereka hidup dengan pendidikan yang dini yang tidak tersetruktur, sistematis bahkan tanpa pendidik yang baik.

Apa positifnya dari system zonasi pendidikan?

Positifnya sangat luas, sangat lebar, sangat menyeluruh bahkan kalau dalam ilmu sosiologi sudah tidak bisa di angkakan lagi dan tidak bisa di persentasikan. Yang mempersoalkan system zonasi menjadi masalah, itu hanya orang-orang yang menganggap bahwa anaknya sangat pintar, sangat cerdas, bahkan sangat berprestasi, itu hanya orang tua yang kerjaanya mengumpulkan rupiah tanpa tahu kehidupan rakyat proletar diluar sana. Proletar hidup dengan keadaan hidup yang sangat sederhana, hanya dipenuhi kata bersyukur dengan penciptanya dan kata ikhlas , tanpa harus memikirkan apa yang borjuis kerjakan.

Menurutku ada beberapa hal yang bakalan sangat membantu dengan adanya system zonasi, yakni:

  1. Pendidikan tanpa perbedaan kelas
    Pendidikan tanpa perbedaan kelas yaitu anak didik akan mudah untuk berpapasan dengan siapapun, baik itu yang kaya rupiah, dan orang yang kurang kaya rupiah. Tanpa melihat pakaian apa yang kamu pakai, berapa harga pakaian yang kamu pakai bahkan kulit mu putih atau bahkan kulitmu yang kurang putih.
  2. Fasilitas lembaga pendidikan yang kurang lengkap atau fasilitas yang sangat lengkap
    Aku tak tahu cara belajar yang sangat afektif, karena ketika dulu aku belajar hanya di temani lentera yang terbuat dari botol minuman berenergi, dengan isi minyak tanah yang diberi sumbu berapi untuk memberikan penerangan di gelapnya malam. Distulah dulu aku belajar dengan sebuah kehidupan yang menurutku dipenuhi dengan rasa bersyukur pada ALLAH-KU. Ku-ingat tahun 2000 an dikala itu, bukan aku saja, tetapi banyak tetangga dan sanak saudara yang juga melakukan hal yang sama, dengan lembaga pendidikan yang hanya bermodalkan kapur putih, lalu papan tulis hitam yang terbuat dari triplek, dan berataburan di rak-rak buku-buku yang nggak begitu banyak tetapi cukuplah untuk memberikan ilmu pengetahuan yang sangat berkualitas. Seiring yang aku tahu saat ini pun, bukan aku saja yang belajar dengan peralatan yang sederhana di lembaga pendidikan. Beberapa tokoh nasional yang berprestai yakni Chairul Tanjung si anak singkong, bukan hanya dia saja, masih banyak tokoh nasional yang belajar di Indonesia yang menggunakan peralatan atau fasilitas sederhana di lembaga pendidikan.
  3. Pendidik atau guru
    Dengan adanya sistem zonasi ini, pemerintah juga bakalan memerhatikan para pendidik yang mengajar dilembaga pendidikan. Bahkan ini juga merupakan peluang bagi para sarjana pendidikan untuk mendaftar menjadi guru di lembaga pendidikan. Karena tentu lembaga pendidikan bakalan banyak membutuhkan para pendidik baru atau guru yang mampu menjadi pendidik yang bisa memberikan pendidikan yang baik bagi peserta didik. Dan tidak lepas dengan jurusan atau program studi yang di geluti.

Kalau saat ini banyak masyarakat ribut, bagaiaman dengan fasilitas di setiap lembaga pendidikan, kalau menggunakan system zonasi. Menurutku pemerintah juga banyak melakukan kajian dan pertimbangan. Mereka rapat kan juga pasti ada yang memikirkan masyarakat kelas bawah, ya biarpun tidak semua orang-orang di pemerintahan memikirkan rakyat bawah, paling tidak ada dua atau beberapa orang yang sadar diri.

Memang saat ini masih banyak lembaga pendidikan yang kekurangan fasilitas. Tetapikan pemerintah juga akan mengambil uapaya untuk memberikan fasilitas yang baik kepada lembaga pendidikan yang membutuhkan. Saat ini, yang menurutku harus dibenahi bukan fasilitasnya, melainkan orang-orangnya peserta didiknya. Apakah pendidik dan peserta didik bisa berkolaborasi untuk saling mentaati aturan main yang dibuat oleh sekolah, oleh pendidik atau oleh pemerintah.

Memang saat ini banyak kaum kritis, yang kerjaannya mengkritisi. Apakah kaum kritis tersebut sudah mengkritisi diri sendiri? Agak lucu, agak nyeleneh. Kritis boleh-boleh saja, karena memang haknya. Aku tahu, orang-orang kritis ini merupakan orang-orang yang belum berada di posisi yang sama dengan pemerintah atau jabatan atau apapun itu. Seharusnya dengan segala macam persoalan negri yang kabut ini, kaum kritis justru memberikan solusi atau sediakan upaya untuk mencari solusi untuk menjadi jembatan bagi rakyat yang pendidikannya belum masuk kategori pendidikan yang maksimal.

Kesimpulan

Sistem zonasi pendidikan merupakan kebijakan yang patut kita apresiasi. Dari sistem inilah kita bisa menhentaskan sistem kelas sosial di lembaga pendidikan, tanpa melihat kaya miskin, pejabat atau pengemis, tampan atau kaya dan lain sebagainya. Kehidupan peserta didik juga menjadi terarah dengan hidup saling berdampingan, belajar dengan saling membantu. Skat-skat kelas sosial di lembaga pendidikan juga akan hilang. Yang biasanya mereka tawuran antar sekolah justru akan menjadikan pserta didik bisa saling memahami kehidupan. Karena kita bisa ambil sedikit pengalaman dimasa lampau, banyak sekolah-sekolah negeri tawuran hanya karena perbedaan kelas sosial, favorit atau bukan, prestasi atau bukan, justru dari sistem zonasi ini cara menghilangkan hal-hal buruk yang terjadi di dalam peserta didik.

Para guru atau pendidik harus mampu meberikan materi-materi yang terarah dan sistematis. Menjadikan peserta menjadi anak didik yang mampu menjaga karakter atau etika yang baik dengan menerapkan perbuatan-perbuatan yang Ber-Kebhinekaan dan Ber-Pancasila. Inilah tugas dari pendidik atau guru, karena bukan soal mengajar dan menyampaikan materi saja, melainkan perbuatan yang diperbuat oleh peserta didikanya juga menjadi tanggung jawab para pendidik atau guru.

“Wujud pendidikan yang baik itu bukan dari fasilitas atau peralatannya, tetapi bagaimana kamu mewujudkan pendidikan tersebut dengan perbuatan yang elok, yang baik, yang sopan dan santun dengan hidup bersama masyarakat disekitarmu dan bermanfaat. Itulah pendidikan yang Ber-Kebhinekaan dan Ber-Pancasila”

Penulis: Muhammad Hotip (Aktivis Kebergaman, Aktivis PMII)

Dilihat 43 kali

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *