Memanfaatkan Sampah Plastik Untuk Aspal di Indonesia

Memanfaatkan Sampah Plastik Untuk Aspal di Indonesia

Sebagai negara yang dihadapkan oleh persoalan sampah plastik, beberapa solisi menjadi pilihan. Salah satunya yaitu pemanfaatan sampah plastik sebagai campuran pembuatan aspal. Dimana pada 2017 lalu sudah dilakukannya uji coba pembuatan aspal dari bahan plastik sepanjang 700 m di Universitas Udayana, Bandung.

Pemanfaatan plastik sebagai bahan campuran pembuatan aspal, pertama kali di uji coba oleh India pada tahun 2002 di India. Hingga 4 tahun setelahnya, Rajagopalan Vasudevan seorang profesor bidang kimia di Thiagaraj College of Enginering menerima hak paten atas temuannya tersebut. Dan sejak saat itu sekitar 10.000 km jalan di India sudah dibuat dengan campuran aspal plastik. Tidak hanya berhenti di India, pada tahun 2018 plastik juga sudah mulai digunakan Australia untuk mengaspal 300 meter di jalan Plastiphalt, Melbourne, Australia. Di Indonesia sendiri hingga tahun 2018 plastik sudah digunakan untuk mengaspal 6.372 meter area pabrik di PT. Chandra Asri Petrochemical Tbk, Banten.

Plastik sendiri merupakan bahan yang paling sering kita gunakan dalam kehidupan sehari-sehari. Penggunaan plastik sebagai bahan campur pembuatan plastik menjadikan salah satu solusi terbaik dalam mengurangi pemanfaatan sampah. Namun, sadarkah kita bahwa plastik terdiri atas bahan dan jenis yang berbeda-beda. Di antaranya adalah

  1. High Density Polyethylene (HDPE), umumnya digunakan pada botol susu cair, botol obat, dan kosmetik. HDPE merupakan plastik dengan tingkat bahaya yang rendah. Namun, plastik jenis ini merupakan prosuk paling banyak mengeluarkan senyawa kimia estrogenik yang dapat menyebabkan masalah kesehatan pada janin dan anak-anak.
  2. Low Density Polyethylene (LDPE), digunakan sebagai tutup berpahan plastik, plastik pembungkus daging dan berbagai jenis plastik tipis. LDPE merupakan plastik yang terkategorikan dengan tingkat bahaya yang rendah.
  3. Polyvinyl Chloride (PVC), bahan plastik ini biasanya dipakai untuk produksi kemasan wadah obat-obatan. Bahan plastik PVC merupakan bahan plastik yang cukup berbahaya.
  4. Polypropylene (PP), biasa terdapat pada wadah yogurt, margarin, dan bungkus makanan siap saji. Jenis ini juga ditemukan pada botol obat-obatan, tutup botol, dan botol untuk saus tomat dan sirup. PP merupakan jenis plastik yang aman.
  5. Polystyrene (PS), biasa disebut juga styrofoam, umum ditemukan pada wadah makanan seperti cup, piring, dan mangkuk. PS merupakan jenis yang harus diwaspadai bahayanya. Masalahnya terdapat pada styrene yang dapat luruh dari polystyrene. Yang mana Styrene sendiri dapat menyebabkan kanker.
  6. Polyethylene Terephthalate (PET), biasanya terdapat pada kemasan botol minuman ringan. Terdapat pada wadah toples untuk selai atau makanan cepat saji. Tipe plastik ini biasanya dapat digunakan untuk makanan yang bisa dihangatkan dalam oven dan microwave.

Proses pemanfaatan limbah plastik sebagai bahan pengerasan jalan dapat dilakukan dengan dua cara, Wet process, limbah plastik yang digunakan sebagai bahan modifikasi aspal atau Dru process, limbah plastik yang digunakan sebagai bahan modifikasi agregat.

Menjadi sebuah momentum bagus memang, dimana Indonesia dihadapkan dengan masalah sampah, datang inovasi penggunaan sampah plastik sebagai bahan pembuatan aspal. Di mana aspal berbahan plastik ini selain dapat mengurangi limbah plastik juga menguntungkan dari bidang kontruksi, seperti kemampuan menahan defortasi yang lebih tinggi, tahan terhadap kerusakan jalan yang di akibatkan air, durabilitas dan umur kontruksi meningkat, dan juga stabilitas dan kekuatan kontruksi ikut meningkat. Sudah tentu ini sangat membantu Indonesia di mana saat ini Indonesia menjadi negara nomor dua produksi sampah terbanyak tiap tahunnya.

Penulis: Nur Kusmayadi
Editor: –

Dilihat 100 kali

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *