Media Kacung-an

Media Kacung-an

Siang ini, panas yang sangat terik, menyinari bumi yang sudah mulai lumus dan lusuh akibat terlalu banyak perbuatan dan kelakuan tidak baik dari penghuni bumi. Dulu daun-daun hijau dan pohon-pohon rindang meneduhkan penghuni bumi, tanah dan seluruh makhluk di bumi. Memberikan makanan paling enak kepada mereka. Sebagian makhluk lupa saking menikmati kenikmatan yang di berikan Tuhan kepada makhluk di bumi.

Siang itu juga, aku mulai berfikir, sedikit merasuk alam bawah sadar dan meraba-raba sambil bertanya, ada apa di alam bawah sadar ini? Aku mulai mendapatkan sedikit demi sedikit jawaban dan isi di alam itu. Banyak fenomena yang datang secara tiba-tiba dan hilang sekejap mata tanpa kata-kata. Di alam itu aku melihat ada penghuni bumi (manusia) ngamuk-ngamuk tak tentu arah di atas angin (media sosial), ada penghuni bumi yang sedang kesusahan, ada penghuni bumi yang sedang bahagia dan ada penghuni bumi yang lontang-lantung mengukur jalan mencari kebenaran dan kemenangan.

Aku luruskan fikiranku, agar aku dapat menemukan sebuah jawaban yang telah hilang di jaman lampau. Aku mencoba untuk diam, dan pada akhirnya aku mengingat sesuatu, yaitu pemberitaan media, banyak berita datang dari berbagai arah dan sudut media. Detik itupun aku diam termenung lagi, lalu aku terbawa kenyamanan panasnya terik matahari yang masuk dalam sangkarku. Sambil melanjutkan cerita, Aku akan kasih tau sedikit berita yang aku dapatkan dari fikiran dimasa lampau, tapi jangan marahi aku, karena aku tak berniat menyudutkan dan melawan.

Kala itu Ada 212 di satu sudut tempat yang diisukan membuat kegaduhan (LALU HILANG), ada Meiliana yang di katakan menista agama lain, padahal tidak (LALU HILANG), ada Novel Baswedan yang di siram air keras tepat dimatanya (LALU HILANG), ada kotak kardus yang tahan air (LALU HILANG), sampai yang pada akhirnya aku mendengar ada Audre yang di keroyok dan disika sampai babak belur seperti telur dadar (BERITANYA HAMPIR PUNAH, HEHEHE), sebenarnya masih banyak berita-berita penting masyarakat kelas bawah, tapi sering di Lenyapkan.

Sekali lagi jangan ada yang marah karena aku hanya mencatat sebagaian kejadian di bumi, tapi aku yakin berita-berita itu akan hilang sebelum satu bulan lebih, Ya iyalah berita kan hanya akan muncul di kala hanya viral di publik, setelah viral dalam beberapa waktu bakalan hilang tanpa jejak. Mungkin nunggu di pancing kali ya, baru ikan-ikan itu bakalan keluar, apalagi dengan umpan yang bagus dan enak (UANG JAJAN). Sebenarnya aku tak mau catat hal-hal seperti ini, ntah kenapa tapi aku malah kepikiran untuk mencatat nya, maklum aku kan hanya pencatat bukan pengobral pakaian, wkwkwkwk. Sekali lagi aku ingatkan janga ada yang marah, ini hanya kata-kata dan tulisan, jika ada yang merasa diri, maka sadarlah, jika tidak, harap akal sehatnya dipakai ya!!! Ups  Sorry bagi pembaca jangan merasa, hehehe.

Apalagi musim panen (Pemilu Raya) sudah tiba. Semua berita kecil di tepiskan (berita kaum marginal), tetapi berita penguasa di “agungkan” supaya para media ataupun wartawan mendapatkan “pujian”. Lalu dalam hati aku berkata kasar, ah, dasar lu “Media Kacung-an”, disuruh-suruh tuanmu langsung jalan, diminta rakyat kecilmu di acuhkan.

Banyak wartawan atau media mengaku independen, mengaku profesional, mengaku netral dan lain sebagainya. Sampai pada akhirnya mereka harus masuk dalam sistem pemerintahan, kekuasaan, dan bercampur dengan dengan para bajingan. Bahkan harus gabung dengan group-group HUMAS pemerintah, perusahaan, atau instansi pemerintah agar mendapatkan berita, pasang iklan, dan dapat uang dan pada akhirnya hanya “berita pesanan”, mendapatkan nasi bungkusan dan mendapatkan uang jajan untuk menutup sebuah kebenaran.

Hei tak perlu kalian marah-marah karena aku lagi menceritakan hasil dari alam fikiran bawah sadarku. Lanjut kubercerita detik ini. Para humas menyebarkan informasi ke setiap media, hanya untuk di liput. Tujuannya hanya biar masyarakat tau kinerja pemerintah. Ya tentunya pasti banyak wartawan atau media yang berebut untuk meliput. Mulai sedikit tutup mata lalu aku mulai mimpi basah akibat dari ketegangan berfikir. Karena aku tau, kalau mimpi basah itu akan menghilangkan kesadaran ku.

Biar kulanjutkan ceritaku. Banyak media meninggalkan persoalan kecil mengenai kebenaran dan di hilangkan, tetapi persoalan besar di dahulukan hanya untuk menguntungkan mereka. Ah, biadab, kataku sambil duduk tegang. Aku rasa waras itu hanya milik ia yang tidak mengaku waras. Kulanjutkan lagi ceritaku, ada yang bilang, wartawan dapat gaji darimana , kalau bukan dari iklan? Teruntuk tubuh dan fikiranku, diam sebentar, lalu aku lanjut berfikir panjang. Kenapa nggak mengajukan kepada pemerintah supaya Setiap media mendapatkan anggaran khusus.

Terdiam lagi..!!! Lalu dari kejauhan aku mendengar media atau wartawan kan butuh makan dan hidup, aku berfikir lebih kencang dan dalam sampai masuk kedalam ruang yang tidak pernah aku rasuki hanya untuk mendapatkan Jawaban itu, dan pada akhirnya aku mendapat kan jawaban. Kenapa mereka tidak mengungkapkan kebenaran yang memang fakta bukan di buat-buat, kenapa mereka harus gabung ke group humas pemerintah, bukannya itu akan menjadikan para wartawan sebagai kambing hitam dan tidak bisa mengungkapkan persoalan kebenaran sehingga hanya menunggu berita pesanan baru mereka liput. Padahal masih banyak persoalan kecil, seperti pelayanan pemerintah terhadap publik, administrasi, anggaran dan lain sebagainya.

Rasaku sudah mulai berubah sedikit tidak manis, tidak asam, dan tidak juga asin, laku kubertanya, rasa apakah itu? Lalu muncul celetupan dari mulut manusia dengan jarak sekian meter, ia bilang jadi wartawan atau media itu banyak “can tepinya”, lalu aku tertawa sambil tegang. Persoalan kecil diri dibesarkan, hadapan para kaum karbitan, tetapi di atas tuanmu kau tundukkan diri, agar kau dapatkan sebuah keuntungan demi mengisi “kocek” baju dan celanamu.

Hei bung!!!! Akal mu sudah mulai rusak akibat terlalu banyak suara bisikkan. Jadi, waspadalah ketika melangkah, satu kali melangkah dirimu menentukan diri sendiri. Ungkaplah sebuah kebenaran bung, yang benar dalam dunia nyata ini, jangan kau manipulasi beritamu agar diri tak mudah jatuh ke lubang selokan.

“Menetralkan Diri Dan Mem-Profesionalkan Diri Agar “Diri” Bisa Diterima Disisi Orang-Orang Pinggiran”.

Penulis: Muhammad hotip (Aktivis Keberagaman, Aktivis PMII)
Dilihat 234 kali

3 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *