Manusia Bertopeng Setan

Manusia Bertopeng Setan

Dimalam itu aku sedang duduk diwarung kopi, ada yang bertanya padaku, apa kamu tau manusia yang berjalan bermuka hitam? Saya jawab dengan spontan, “tidak”. Lalu ia menjawab, ooo gitu ya, ya sudahlah, ia lalu menghilang tanpa berkata lagi. Disitu aku mulai berfikir, siapakah orang tadik dan siapa yang ia cari. Kadang kita lupa akan hal yang kecil yaitu membantu siapapun tanpa imbalan, tetapi kita selalu berfikir sesuatu yang besar. Untuk membantu orang pun harus berfikir seribu kali, tetapi untuk diri pribadi dengan sesuatu yang besarpun harus mengorbankan banyak hal, contohnya demi kekuasaan, demi mendapatkan jabatan dan lain-lain.

Siapa yang menyangka sifat acuh tak acuh adalah salah satu sifat setan yang dimiliki manusia. Manusia bisa saja berfisik dengan rupa yang bagus, dengan life style yang elegan. Tetapi kita tidak tahu sifat-sifatnya. Belajar untuk respect terhadap lingkungan sekitarmu, agar kita tahu bahwa amal untuk mati tak perlu dicari terlalu jauh. Manusia diciptakan dengan akal untuk berfikir dengan baik bukan untuk digunakan dengan menirukan sifat hewani atau setan. Manusia diciptkan Allah berbeda dengan makhluk yang lain karena Allah hanya memerintahkan Manusia untuk menyembah dan menjalankan perintah-NYA. Tidak untuk bertanya dan tidak untuk menolak perintah-NYA.

“dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah Berbuat baik kepadamu” (Al-Qashas:77)

“Allah menggugah hati kita untuk berbuat baik dengan mengingat, bahwa setiap hari Allah selalu mencurahkan kebaikan untuk kita. Sejak mata ini terbuka di pagi hari, Allah telah memberi kebaikan berupa udara yang segar, kekuatan untuk bangun, kemampuan untuk melihat dan semua pemberian yang mustahil dapat kita hitung”.

“jika tidak ada perintah atau larangan dari Allah, kita tetap wajib untuk menyembahnya sebagai rasa sukur atas apa yang telah Allah berikan. Begitulah kata mutiara dari Imam Ali bin Abi Tholib”.

Baca Juga : Filosofi Beras

Kadang kita lupa untuk membaca Alqura’an secara kontekstual karena kita berfikirs spontan sehingga hanya di anggap teks. Seperti teks-teks pajangan saja, di desain secantik mungkin supaya terlihat indah tetapi lupa apa makna dari teks itu. Kita ribut dengan kata-kata yang terucap dari lisan manusia. Sampai harus saling menikam dan menghalalkan nafas untuk berhenti keluar lagi. Apa yang dicari manusia dimuka bumi ini, padahal bumi sudah muak dengan tingkah laku manusia. Tetapi bumi tetap sabar, karena Allah masih memerintahkan bumi untuk tetap memberikan kenikmatan untuk para manusia. Banyak hal yang perlu kita telusuri mengenai ilmu Allah di seluk beluk muka bumi ini, agar mereka tidak salah memahami ilmu-ilmu Allah.

Penulis: Muhammad hotip (Aktivis Keberagaman, Aktivis PMII)
Dilihat 149 kali

1 Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *