Mamaku & Konsep Feminisme dalam praktek menjadi ibu kandungku

Mamaku & Konsep Feminisme dalam praktek menjadi ibu kandungku

Tidaklah seperti Kartini dengan emansipasi wanitanya, “Habis gelap terbitlah terang”.
Tidaklah seperti Marsinah yang memperjuagkan Hak Buruh.
Mamaku!

Aku menyebutnya Sekolah dan Guru, sebab tidaklah menjadi tabu ketika kita mendengar “AL-UM MADRASATUL ULA”, (Ibu adalah sekolah yang pertama). Tidaklah seorang anak menempuh pendidikan pertama kalinya kecuali kepada sang ibu sebagai orang tua yang mengajarinya, mendidiknya, mengantarkanku kepada ruang-ruang interaksi selanjutnya untuk memahami konten-konten mana yang haq dan bathil, atau manakala perbuatan yang wajib bagi anak untuk dikerjakannya begitupun sebaliknya larangan terhadap perbuatan yang hendak saya tinggalkan.

Dalam kehidupan berkelurga, seringkali mamaku berperan lebih penting dibandingkan bapakku. Bukan untuk tidak menghargai jasa bapakku akan kontribusinya untuk keluarga, akan tetapi tidak bisa saya pungkiri bahwa yang dikerjakan mamaku melebehi dari rasa ketidakpercayaanku bahwa sosok perempuan bisa melakukannya namun semua itu benar adanya terjadi. Mulai dari menjadi ibu rumah tangga yang baik bagi anak-anaknya dan hal ini memang seperti perempuan pada umumnya. Namun yang menjadikan kekuatan tersendiri bagi mamaku adalah beliau merupakan sosok pekerja keras, kendatipun mamaku menjadi petani di ladang untuk membantu meringankan beban bapakku dalam menambah penghasilan guna menghidupi keluarga. Alih-alih setiap harinya mamaku menjalankan aktivitas kesehariannya terus-menerus menjadi ibu rumah tangga dan tulang punggung untuk membatu sumber mata pencaharian.

Selain memang aku terlahir dari keluarga yang latar belakangnya hidup yang dilingkungan sekitarnya menjadikan bertani sebagai penghasilan utama dikampungku. Berawal dari rutinitas subuh yang mulai diawali dari beribadah kemudian dilanjuti urusan memasak, dan bagian dapur lainnya. Berangkatlah mamaku keladang kadang setibanya dirumah pukul setengah sebelas., dengan jarak  ladangnya yang tidak jauh dari belakang rumah. Kadang empatiku sudah tidak sanggup lagi melihat pekerjaan orangtuaku untuk menghidupi keluarga dan menginginkan aku untuk kedua orangtuaku berdiam dengan santai dirumah. Namun mamaku selalu menguatkan diri dengan bahasanya, “Tidaklah sepatutnya kita bersyukur masih diberikan kesehatan dan umur yang panjang untuk mamamu ini melihat para ibu-ibu lainnya yang tidak bisa bekerja karena sakit yang dideritanya, Bersyukurlah mama ini masih bisa bekerja mungkin dengan bekerja ini menjadikan olahraga pagi bagi kesehatan mama yang tetap terjaga”. Selain demikian mama kadang menggeluti hobbynya dengan keahlian menjahit yang ia punya, dan yang membuat aku heran mamaku bisa betulin listrik yang mati dan memasang kabel pada tegangan listrik yang saya rasa bapakku tidak bisa melakukan pekerjaan ini dan begitupun ibu-ibu pada umumnya. Heran aku tu sumpah.”

Mamaku dalam konteks ini menjadi konsep representasi dalam kehidupan sosial masyarakat kita di Indonesia pada umumnya, hal ini menjadikan feminisme bukan semerta-merta menciplak budaya barat. Inilah bukti feminisme yang muncul dan berkembang di Indonesia dengan sendirinya.

Dalam konsep Feminisme, aku mengartikannya sebagai ilmu yang mengantarkan sosok perempuan untuk menjadi seorang yang tangguh tidak semerta-merta selalu bergantungan kepada kaum laki-laki, Seorang feminis menjadikan dirinya untuk bisa melakukan apa yang laki-laki pada umumnya bisa lakukan. Lebih jauhnya yang dinamakan kesetaraan gender, meskipun dalam hal ini tidak bisa mengambil keseluruhan kewajiban laki-laki, batasan-batasannya juga harus disadari dalam praktek menjadi seorang istri dalam kehidupan berkeluarganya.

Alkisah dulu aku terlibat dalam prosesi pengkaderan, aku teringat betul ketidak setujuanku dalam statemen yang disampaikan oleh pemateri yang membahas tentang kesetaraan gender tersebut. Aku ngotot tidak dapat menerima dengan dasarku yang mengacu pada “Ar rijalu qawwamuena ‘alan nisa” bahwa pada dasarnya diterangkan Lelaki adalah pemimpin bagi perempuan. Pun menyadarai seiring perjalanan waktu dengan yang dicontohkan selama ini oleh mamaku terhadap keluargaku ini, perempuan juga bisa melakukan apa yang kaum laki-laki lakukan. Menyadari hal ini aku berusaha mencari-cari konsep feminisme yang dipraktekkan oleh kaum perempuan, mulai dari lingkungan keluarga. Sosial pergaulan tidak kurang-kurangnya menyoroti para perempuan yang bergelut diorganisasi, tentunya mereka lebih menganalisa tentang feminisme yang lebih jauh lagi.

Harapanku kepada sahabat dan teman-temanku kaum hawa yang mempelajari konsep feminisme dalam ruang-ruang diskusi mampu melahirkan terciptanya praktek di lingkungan sosial bermasyarakat. Minimal mencalonkan diri untuk menjadi pemimpin organisasi yang mengakomodir semua jenis apalagi ia bisa dipercayai untuk memimpinnya. Sungguh suatu kehormatan yang luar biasa. Pun sebagai kaum laki-laki juga harus memberikan semanagat serta dorongan bagi mereka yang berusaha memperjuangkan nilai-nilai Feminisme yang terhandung dalam unsur sosial kehidupan ini.

Penulis: M. Yaya MF (Aktivis PMII)
Dilihat 158 kali

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *