Ibu Kota-ku Pindah: Indonesia Masih Jauh dari kata Maju

Ibu Kota-ku Pindah: Indonesia Masih Jauh dari kata Maju

Gambar: republika.co.id

Pindah dari keterpurukan jerit tangis warga Jakarta. Yang dulu kata pemimpin ingin membenahi dan memperbaiki, kini telah usai. Dulu ibu kotaku penuh dengan nutrisi dan gizi yang semua orang boleh memilikinya, tetapi itu semua omong kosong belaka, hanya di raut oleh para pejabat-pejabat negara. Perusahaan mudah mendapatkan izin, koruptor hidup tenang, pelanggar kasus HAM berkeliaran. Ah, Mereka Kaya Rakyat Menderita, itulah slogan yang tepat. Tenggalamannya jakarta dari darat menuju perairan pun semakin mendekati puncak. Mungkin kesabaran pemimpin sudah usai.

Kita kenal dengan ibu kota yang tidak usai-usai masalahnya, tidak ada yang memiliki solusi konkrit bahkan solusi yang ditawarkan para wakil-wakil rakyat, tak bisa di pungkiri kalau itu semua hanya janji-janji yang hanya di rasakan ketika mereka kentut begitu terasa nikmatnya.

Sekelumat pertanyaan keluar apakah nutrisi dan gizi di ibu kota dan sekitarnya sudah habis dibabat? Mungkin itu salah satu alasan pemimpin memindahkan ibu kota-ku. Atau sudah habis proyek-proyek penebangan hutan, proyek-proyek pembangunan gedung-gedung tiang kokoh atau karena lahan-lahan di ibu kota sudah semakin sempit, maka dari itu Ahok pun melakukan reklamasi pulau di ibu kota.

Oh begitu KEJAM-NYA para pejabat-pejabatku. Katanya Indonesiaku ini kaya dengan sumber daya alam, lantas kenapa pejabat-pejabatnya otaknya pada miring. Petani dan pekebun belum juga mendapatkan kesejahtraannya. Katanya PANCASILA ideologi negeri ini, tetapi kenapa para PEJABAT belum juga memberikan dan mengimplementasikan lima sila itu. Malah berdebat mengenai sila pertama. Ah, tolol otak para pejabatku.

Beberapa waktu lalu aku mendengar di televisi mengenai penetapan provnsi terpilih sebagai ibu kota, yakni Kalimantan Timur. Huh, mengerikan sekali mendengar kata pulau Kalimantan yang terpilih. Apakah di pulau Jawa sudah habis SDA dan SDM-nya yang semakin pintar maka dari itu dipilih Kalimantan sebagai ibu kota atau para pejabatku sudah tahu kalau Pulau Kalimantan penuh dengan nutrisi dan gizi atau karena SDM-nya yang agak kurang pintar. Oh, begitukah cara pejabatku berfikir, Oh begitukah para pejabatku menilai. Sungguh kejam dirimu pejabatku.

Siapasih yang tak mengenal pulau Kalimantan yang seksi dan modis dengan alamnya yang masih alami. Bahkan Sandiaga Uno dan, Hasyim Djoyo Hadikusumo dan para pejabat-pejabat negri ini, kaya karena meraup SDA yang dimiliki pulau Kalimantan. Kalimantan Timur menjadi target Ibu Kota. Begitu megahnya harta yang akan dimiliki para pejabat nanti. Tinggal petani, pekebun, Buruh dan rakyat biasa yang menjadi kacung-kacung pejabat dan para kapital

Mahasiswa pro siapa?

Mahasiswa di pulau Kalimantan ini hanya sedikit sekali yang memperjuangkan hak-hak rakyat kelas bawah. Kalau di persentasekan dari 100 persen, mungkin hanya 20 persen yang pro-rakyat. Yang lainnya pada melekat bahkan menempel dengan para pejabat dan kapital. Ya begitulah, siapa yang punya kuasa akan mudah melakukan apapun. Begitu juga para mahasiswa dan pemuda akan mencari posisi aman dan bernaung di ketek pejabat. Kita juga tahu bahkan sebagian besar para mahasiswa yang telah lulus Sarjana hanya akan menginginkan pekerjaan yang nyaman dengan kursi empuk dan penuh dengan pendingin dan gaji yang tinggal masuk ke kantong mereka setiap bulannya. Sedangkan petani, pekebun dan buruh hanya mengelus dada.

Jamannya Soekarno, Soerharto, Habibi, Gusdur, Megawati dan SBY akan terulang kembali dijaman Jokowi. Bukan ngawur tetapi pada faktanya semua isu dan persoalan dijaman presiden-presiden terdahulu sudah muncul kepermukaan. Ya, bisa kita lihat sendiri realita yang ada di jaman Jokowi. Isu apasih yang tidak ada bahkan semua kasus pun hadir dijaman Jokowi.

Masih jauh sekali dari kata MAJU negeri ini. Dengan hutang-hutang yang semakin melunjak dan ketimpangan, kesenjangan bahkan perdamaian pun belum juga nampak. Anak-anak negeri ini butuh sebuah inovasi baru untuk menjadi pemuda yang unggul bukan menjadi pengemis dan pengamen di negeri sendiri.

Para pejabat negeri sendiri setiap nampil di televisi malah bertengkar dan berdebat sendiri, kalau saya ambil dari kata sunan kediri “mungkin ada setan yang sedang bertengger”. Bukan itu yang rakyat inginkan, melainkan solusi menghentaskan kemiskinan, ketimpangan, kesenjangan, perdamian dan memberikan kesejahteraan yang sesuai dengan ideologi negri ini.

Penulis: Muhammad Hotip (Aktivis PMII)
Dilihat 69 kali

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *