Doa Tidak Optmis

Doa Tidak Optmis

Rumit untuk memahaminya. Butuh praktek, butuh bergerak, butuh kemampuan, butuh kekuatan, butuh kesadaran. Diwaktu tertentu, kamu akan paham, agak beda dengan yang lain, tetapi tergantung dirimu untuk meyakininnya. Suatu waktu, kamu bakalan bertanya, siapa doa itu? Dimana doa itu? Apakah doa itu nyata? Jawabannya, tidak pasti, mungkin bakalan remang-remang, mungkin bakalan abu-abu atau mungkin itu palsu bin tidak ada.

Suatu waktu bakalan ada yang bilang, pahami saja, yakini saja, ntar akan nyata. Dirimu bakalan bingung, pikiranmu bakalan berpikir, atau kamu bakalan sesat dalam pikiranmu sendiri. Tidak, tidak ada yang tahu, bahkan ahli keyakinan-pun tidak tahu. Apakah doa itu ada. Kata yang paling baik adalah doa. Tidak perlu kamu tahu, saat ini, nanti, besok atau lusa, berkata saja yang baik-baik, ntar diwaktu yang tidak terduga, Tuhan yang diyakinimu akan mengijabah.

Butuh ketenangan untuk bertemu doa, tapi itu sulit. Bahkan, ada yang memakai cara yang semrawut untuk bertemu dengan doa. Doa datang kapan saja, dia tidak perlu permisi, dia tidak menelfon, dia tidak mengetok pintu, dan dia tidak pamit. Tapi dia ketemu. Ada yang bilang, doa itu nyata. Aku pikir, masak iya sih doa itu nyata, mulai tidak optimis.

Apakah doa itu? Mulai berfikir, ia tidak berbentuk, kalau aku katakan, ia adalah fiksi, bahkan mungkin ia hanya sebuah dongeng yang menjadi nyata, nyata, karena sering disebut-sebut dan di ucapkan. Tapi tidak ada yang melihat dia, ingin rasanya aku bertemu dia, apakah ia tampan? Atau, Apakah ia cantik? Belum ada yang pernah ketemu, tapi ia sering hadir, hadir dimanapun yang dia mau.

Firman Allah SWT, “Berdoalah kepada-ku, niscaya akan kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.”(QS.Al-Mu’min:60).

Tidak perlu kita mencari tahu keberadaanya, ia tak tampak, tergantung dirimu, apakah mau menemui dia, atau malah membencinya, hanya orang-orang yang mampu mempertahankan keseimbangan hati dan akalnya (Iman), yang mampu menemui doa, jika sudah mengenal doa, maka dirimu akan bergelar pendoa, apalagi orang yang terus menerus hidup bersama doa, doa itu baik, doa itu sempurna, bahkan doa tidak meminta imbalan apapun, dan tidak perlu dipromosikan, karena doa tidak perlu terkenal di dunia. Cukup kesediaan hati dan akalmu untuk menerimanya, dalam keadaan sadar yang cukup.

Duka lara karena terlalu saking sayang dan cintanya, aku tak pernah bertemu. Aku berkata dalam hati yang paling kecil, bahkan saking kecilnya hati, steleskop pun tidak bisa melihatnya, atau bahkan alat dari negara terhebatpun tidak akan menemui hati kecil itu, kataku seperti ini, suatu waktu, diwaktu yang menentu, aku bakalan menemui doa, biarpun doa tidak akan menemuiku.

“Doa yang paling baik adalah kata-kata yang baik dan berdoa dimanapun kita berada”

Penulis: Muhammad Hotip (Aktivis Kebergaman, Aktivis PMII)
Dilihat 84 kali

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *