Coretan Sudut: Etika Manusia

Coretan Sudut: Etika Manusia

Sedikit berbeda jalan cerita malam ini. Aku melihat banyak manusia yang sedang beruntutan menjadi pengabdi dirinya (Sibuk main Gadget). Suaranya Sambil bersileweran kesana-sini, saling lempar kata supaya mereka bertahta dengan kata-katanya. Kulihat, ada ibu-ibu dan anak kecil sedang menjual kan makanan ringan, menawarkan kesetiap makhluk yang di katakan manusia. Kulihat ekspresi mimik wajah yang berbeda-beda. Ibu itu melempar kata pesanan kepada manusia-manusia itu, aku mendengar intuisi nada yang merdu, dengan intonasi suara yang berurutan.

Banyak orang yang membuang muka, banyak orang yang membuang kata, dan banyak orang yang membuang sifat acuh. Lagi-lagi kata “acuh”. Tapi aku nggak fokus untuk membahas kata itu, karena kata itu sudah tenggelam dalam benak-benak selipan tersisih.

Malam itu pengunjung setia warung kopi itu semakin ramai, banyak manusia yg berpapasan muka dan bertabrakan kata. Tapi aku hanya mendengar nada yang muncul dari lantai bawah, dari nada-nada yang menjadi kalimat sampai menjadi kata “lagu” yang mengusik gendang telingaku untuk mendengar, biarpun secara paksa harus ku-dengarkan juga. Seperti “kolor” yang hanya di pakai sebagai pelindung kemaluan, di pakai di cuci di pakai di cuci begitulah seterusnya. Lalu ibu itu hanya bisa diam ketika ia dengan ramah menawarkan makanan ringan pada Manusia-manusia itu. Biarpun di tolak tanpa kata dan tanpa etika perilaku yang baik.

Aku tak tau apa yang mereka pikirkan, aku tak tau apa yang mereka pelajari selama berpendidikan (sebagian besar mahasiswa) tinggi. Etika tak taat pada diri. Ada kata dalam pendidikan yang sering di ajarkan yaitu “karakter”. Aku tak bisa terlalu jauh mendefinisikan kata itu, karena pembaca bakalan cari tahu secara konteks, tapi itu mungkin.

Seberapa tinggi Manusia menaiki tangga dan sampai ke puncak, yang aku tau bakalan turun kembali, baik itu secara paksa ataupun secara sadar atau malah perlu di tendang dari atas karena dirinya tak tau diri. Kutarik nafas dengan panjang. Kuhisap batangan rokok yang kubakar sampai rasa menikmati titik kenikmatan yang paling dalam, lalu aku minum teh yang berada di dalam gelas putih. Kupikir lagi untuk memanjakan pikiranku biar jernih agar “etikaku” tak bisa lari dari kebaikan.

Kudengar lagi nada-nada lagu itu, sampai aku tahu makna yang disampaikan dalam lagu yang di nyanyikan seorang perempuan berkerudung hitam dan berbaju biru, dengan hidung mancungnya. Husst, jangan baper karena suara yang katanya merdu. Lalu aku melarikan pikiran ku sampai aku temukan apa yang harus pikiran ku sampaikan.

Diam kembali…..!
Aku kasihan pada ibu dan anak yang menjual makanan ringan itu. Lalu aku pikir, jika aku Manusia yang ber-kemanusiaan aku akan memanusiakan manusia, bukan memanusiakan manusia seperti binatang tanpa akal dan setan tanpa kelembutan. Siapa sangka, aku baru sadar rupanya yang menjual tadi adalah manusia yang berjenis kelamin. Bukan manusia yang bukan berjenis kelamin. Aku juga baru sadar rupanya yang waktu ibu itu tawarkan makanan, menawarkan nya pada manusia yang nggak berjenis kelamin (Etika) yang baik. Aku pikir mereka ada kelainan rasa, rasa yang kurang bermoral pada etika yang baik.

Waktu malam itu sudah larut, mendekati pukul 24:00. Tapi suasana nada-nada itu semakin merasuk ke dalam relung jantung dan relung seks mimpi malam. Aku pikir semuanya bakalan berubah dengan waktu yang sudah membebani mata yang ikut terlelap.

Aku rasa nasionalisme ku sudah berada pada puncak rasa yang paling nikmat dimalam ini. Serasa kuhisap semua kenikmatan dimuka bumi ini. Dari yang paling tinggi sampai yang paling rendah, dari hilir sampai ke hulu, pokoknya dari semua sudut sudah aku rasakan kenikmatan itu.

Eh, jangan terlalu memikirkan kalau aku adalah manusia pencipta opini tertinggi ya!! Karena tulisan yang aku buat ini.

Di sudut pun aku melihat sepasang dua jenis kelamin yang berbeda sedang kasmaran karena cinta. Ya, cinta. Cinta tanpa etika. Tak melihat siapa yang di sudut ,siapa yang di depan, siapa yang di pojok. Buset!! Cinta tanpa etika moral yang baik itu kata kasarnya “Goblok”. Hust, maaf saja kalau kasar, agak sedikit menyampaikan hasil pikiran saja. Habis nya mata ini mulai kesal karena melihat percintaan tanpa etika moral di depan halayak ramai. Seharusnya malu juga kan. “Sebarapa tinggi sih, cinta lo kepada lawan jenismu”, sampai hilang akal budi yang baik sehingga harus dikalahkan dengan nafsu. Emang akal Lo terbuat dari nafsu ya.

Aku juga nggak tau sih, hanya saja kurang elok memperlihatkan percintaan di depan halayak ramai, terlalu vulgar, sampai publik pun harus tau kalau Lo pacaran nya sampai pada titik kemaluan hilang.

Kalau aku pinjam kata bung Rocky itu namanya “dungu”, nah kan, mulai menciut kata kurang baik tapi pantas di ucapkan, tapi sorry nih. Pembaca jangan menjustifikasi aku ya. Aku sampaikan nih, biar kalian sadar akan diri, kalau diri itu punya akal dan rasa malu.

Penulis: Muhammad hotip (Aktivis Keberagaman, Aktivis PMII)
Dilihat 107 kali

1 Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *