Aku Cinta Islam, Aku Bangga dengan Nusantara

Aku Cinta Islam, Aku Bangga dengan Nusantara

Islam menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah agama yang di ajarkan oleh Nabi Muhammad SAW yang berpedoman pada kitab suci Alquran yang diturunkan ke dunia melalui wahyu Allah Swt. Dalam bahasa Arab, Islam atau al-Islam memiliki arti berserah diri kepada Tuhan, yang artinya Islam adalah agama yang mengimani satu Tuhan, yaitu Allah Swt. Dalam fitrahnya, Islam merupakan agama yang membawakan pada keadilan, kedamaian, dan rahmat bagi semesta alam.

Namun, di akhir-akhir ini Islam sering dianggap sebagai agama yang membawa radikalisme dan terorisme yang membawa perpecahan di negeri ini. Terlebih lagi dengan munculnya pemahaman Islamopobia yang menganggap Islam adalah ajaran yang menakutkan. Hal ini tentu dirasa tidak sesuai fitrahnya, citra Islam yang membawa kedamaian berubah menjadi Islam yang menakutkan, Islam yang yang sangat keras. Namun, apakah memang benar demikian?

Menurut Buya Hamka (1997) Islam masuk sudah sejak abad ke-7 M yang dibawa oleh bangsa Arab. Tentu jika berkaca dari sejarah itu sudah sangat lama sekali. Nusantara sendiri pertama kali dikenalkan oleh Patih Gajah Mada dalam sumpah Palapa untuk menyebut seluruh kepulauan yang sekarang kita sebut dengan nama Indonesia.

Sebelum Islam masuk ke Nusantara atau Indonesia, di wilayah tersebut sudah ada budaya dan tatanan kehidupan sosial yang berkembang di masyarakat yang dipengaruhi oleh: 1) Agama atau kepercayaan yang lebih dulu masuk ke Nusantara yaitu Hindu dan Budha; 3) Perkembangan peradaban dan kebiasaan nenek moyang termasuk budaya animisme dan dinamisme; serta 3) Letak geografis daerah-daerah yang menjadi bagian dari Nusantara. Pengaruh-pengaruh tersebut memberi dampak pada nilai dan norma, bahasa dan adat istiadat, karakteristik busana, sistem perekonomian termasuk jenis mata pencaharian serta budaya pertanian, dan lain sebagainya. Bahkan pengaruh-pengaruh tersebut juga memberi dampak pada system perpolitikan di Nusantara pada masa itu. Kesemuanya itu akhirnya menjadi ciri khas budaya dan karakter masyarakat masing-masing daerah di Nusantara. Jadi, bagaimana Islam melebur dengan adat kebudayaan Nusantara di kala itu?

Perbedaan antara kondisi geografis kawasan Nusantara yang didominasi hutan tropis dengan geografis Arab yang didominasi oleh kawasan gurun pasir dan pegunungan tandus, melahirkan karakteristik masyarakat yang berbeda. Berdasarkan sistem sosial dan budaya masyarakatnya, tentu akan ada bagian-bagian yang berbeda dalam perkembangan dan penerapan Islam di tanah Arab dengan Islam di Indonesia. Metode syiar agama Islam di Indonesia yang dilakukan oleh para wali juga berbeda dengan yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW, para sahabat nabi, serta ulama-ulama di Arab dan negara Timur Tengah lainnya.

Memang tidak bisa dipungkiri, banyak khazanah budaya Arab yang melekat dan melebur dalam ciri khas budaya Islam. Tentunya budaya-budaya tersebut adalah yang tidak bertentangan dengan ajaran syariat Islam. Begitupula budaya-budaya lokal Nusantara, banyak yang dijadikan sarana dan menjadi bagian dari penyebaran agama Islam di Indonesia. Contohnya pagelaran kesenian wayang kulit dan tembang-tembang yang sering digunakan oleh para wali untuk menyebarkan Islam di Indonesia. Hal yang tidak lazim digunakan dalam syiar Islam di Arab.

Salah satu contoh lainnya adalah perbedaan implementasi dari syariat menutup aurat. Sesuai dengan budaya berpakaian di Arab, menutup aurat untuk laki-laki lebih populer menggunakan pakaian terusan panjang atau gamis yang disebut dengan thawb atau thobe, yang merupakan pakaian tradisional di berbagai negara Timur Tengah, mulai dari Arab Saudi, Maroko sampai Oman. Sedangkan budaya di Indonesia, kaum laki-laki lebih familiar menggunakan kain sarung dan baju takwa dalam menutup aurat. Dipadu dengan penggunaan kopiah atau peci hitam, busana tersebut menjadi ciri khas orang muslim di Indonesia. Tapi di Arab ciri khas pakaian muslim tidak seperti itu. Namun kedua karakter berpakaian tersebut sama-sama dalam rangka memenuhi syariat menutup aurat.

Masih banyak hal lain yang menjadi karakter berbeda dalam menerapkan ajaran Islam antara masyarakat Indonesia dengan Arab. Namun, hal tersebut tidak menjadikan seolah kita melahirkan sebuah kepercayaan Islam yang baru di negeri ini. Oleh karenanya hal ini bukan suatu masalah dalam perkembangan Islam Nusantara (Islam di Nusantara). Bukan hanya dalam agama Islam, dalam agama lain yang masuk dari luar nusantara pun terdapat juga penerapan syariat yang berbeda dengan di Indonesia. Bahkan bapak Proklamator yang juga Presiden Pertama RI, Ir. Soekarno menegaskan kalau jadi Hindu jangan jadi orang India, kalau jadi orang Islam jangan jadi orang Arab, kalau kristen jangan jadi orang Yahudi, tetaplah jadi orang nusantara dengan adat-budaya nusantara yang kaya raya ini. Hal tersebut tentu harus dipahami bukan berarti budaya Arab kita singkirkan dari penyebaran Islam di Indonesia, tetapi ketika kita menjadi Islam kita tetap sebagai orang Nusanta dengan ciri khas budaya yang di milikinya.

Secara rasional, Islam di Nusantara mengalami perkembangan yang sangat pesat, tentu ini merupakan kondisi baik untuk umat Muslim. Di tengah situasi Indonesia yang sedang mengalami proses demokratisasi, sikap intoleransi dan konflik justru dapat menjadi bagian dari bentuk radikalisasi agama terkhusus Islam. Tentunya ini akan menimbulkan kesan bahwa Islam adalah agama yang sangat menakutkan. Jadi, apakah Islam tampil sebagai agama yang menakutkan?

Sebagai seorang muslim (orang-orang yang menganut agama Islam) tentu ini menjadi tantangan tersendiri untuk menjalankan Islam sesuai fitrahnya. Sebagai Islam yang membawa kedamaian tentunya kita juga harus menunjukan apa itu kedamaian dalam Islam sendiri. Mulai dari saling menghargai dan saling memaafkan antar sesama saudara muslim baik itu dari kelompok manapun. Itu sudah menjadi salah satu bentuk menjadi seorang muslim yang cinta akan keadilan dan kedamaian.

Kesimpulannya, Islam adalah agama yang mengajarkan tentang bagaimana kita berserah diri dan cinta akan keadilan dan kedamaian. Menjadikan Islam yang jauh dari kata kekerasan, radikalisme, dan terorisme adalah tugas kita bersama sebagai seorang muslim. Mulai dari tidak membeda-bedakan antar sesama muslim, saling menghargai dan menghormati kepercayaan lain itu sudah lebih dari kata cukup. Menumbuhkan rasa cinta Islam dan bangga terhadap Nusantara, dengan tetap menjalankan kewajiban Islam sesuai dengan syariat-syariatnya dan tetap melestarikan budaya-budaya Nusantara.

Hentikan permusuhan antar sesama muslim dan mulai bersama-sama menjadi seorang muslim yang muslim. Tidak ada Islam salah dan Islam benar, karena Islam adalah Islam yang Rahmatan Lil ‘Alamin.***

Dilihat 38 kali

4 Comments

  1. Yaa di negara kita indonesia penyebaran agama islam terus berkembang dari zaman ke zaman..😄

    Dan semoga agama kita islam bisa menjadi Agama yang dituakan untuk memimpin di seluruh nusantara indonesia..😄

    1. benar tu mas, keseringan masyarakat kita itu malah terkesan nggumunan, padahal islam sesungguhnya itu sangat2 fleksibel

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *